Sektor ritel diyakini bakal menjadi salah satu subsektor properti yang diyakini lebih cepat pulih pascapandemi Covid-19. Hal ini lantaran masa pembatasan mobilitas masyarakat mulai dilonggarkan. Director of Strategic Consulting dari Cushman & Wakefield, Arief Rahardjo, menerangkan kekosongan ruang ritel diproyeksikan akan menurun 2,3 persen di 2023 dan permintaan sewa bakal meningkat. Permintaan akan tumbuh dan membersihkan kekosongan ritel termasuk proyek-proyek besar yang akan hadir di tahun depan. Untuk diketahui, di tahun 2022 ada 6 proyek ritel yang selesai dan menambah total ruang ritel seluas 43.800 meter persegi di Jakarta. Sementara itu, konsultan properti Cushman & Wakefield memperkirakan akan ada 123.200 meter persegi ruang ritel baru dari 4 proyek besar yakni Mall Menara Jakarta, Lippo Mall East Sudem dan Podium Ritel Thamrin Nine. “Diharapkan dapat memasuki pasar ritel Jakarta pada tahun 2023. Penyerapan bersih ruang ritel diperkirakan akan tumbuh seiring dengan selesainya proyek-proyek ritel besar di tahun 2023,” kata Arief dalam paparannya, Senin (19/12/2022). Sementara itu, pertumbuhan sewa ritel masih akan berlanjut. Namun harga sewa masih perlu ditahan dan diharapkan tidak berubah drastis karena masih menunggu ritel pulih secara menyeluruh. Apalagi, insentif persewaan ruang yang sebelumnya ditopang oleh Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) telah berakhir dan belum ada sinyal kelanjutan untuk tahun mendatang. Adapun, harga sewa ritel rata-rata di sepanjang 2022 tak lebih dari Rp800.000 per meter persegi per bulan. Dalam data Cushman & Wakefield, harga sewa ritel terus mengalami penurunan sejak pandemi Covid-19. Prospek ritel ke depannya masih dihadapi tantangan kenaikan harga konsumen, inflasi, dan kenaikan suku bunga yang masih diperkirakan naik. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus memperlihatkan resiliensi sepanjang tahun 2022. Tak hanya itu, periode pascapandemi, pelonggaran pembatasan sosial Covid-19, berlanjutnya vaksinasi, dan peningkatan daya tahan terhadap penyakit di kalangan penduduk akan berdampak positif pada arus pengunjung pusat ritel. Rencana Ekspansi Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) optimistis bahwa rencana ekspansi pada 2023 bakal lebih baik jika dibandingkan pada saat pandemi Covid-19 pada 2020-2021. Jika saat pandemi pembukaan toko ritel hanya 2-3 toko per hari, pada 2023 diyakini toko yang akan buka bisa mencapai 4-5 toko per hari secara rata-rata nasional. Ketua Aprindo, Nicholas Mandey, mengatakan pihaknya pada 2023 melihat dengan kaca mata optimistis meski banyak prediksi ekonomi tahun depan lebih berat. Roy membeberkan, optimisme itu lantaran fundamental ekonomi Indonesia lebih baik dibanding ekonomi negara lain dan itu terbukti inflasi dan pertumbuhan ekonomi relatif bisa dikendalikan. “Inflasi menurun dari 5,94 [September] jadi 5,71 [Oktober] dan 5,42 [November], kemudian pertumbuhan ekonomi kita 5,44 naik jadi 5,72. Jadi 2023 kita melihat ada dua hal, inflasi terjaga dan kemudian menuju endemic kita memang belum recovery tapi bisa 5 toko sehari,” ujar Roy, Kamis (14/12/2022). Roy mengungkapkan ketika pandemi, sektor ritel salah satu sektor yang terpukul cukup berat. Dari biasanya ekspansinya bisa 6 toko dalam sehari, anjlok jadi 2-3 toko sehari. “Jadi sebelum pandemi bisa 900-1.000 toko per tahun. Setelah pandemi itu turun 50 persen. Supermarket dan hypermarket juga turun, sama. Supermarket dalam 1 perusahaan ritel itu bisa buka 12-15 toko per tahun,” ujarnya. Meski begitu, proyeksi ekspansi bisa berubah sewaktu-waktu. Namun, dia memperkirakan pada 2023 sektor ritel belum pulih seperti sebelum pandemi Covid-19. Saat ini sendiri, jumlah minimarket, supermarket dan hypermarket anggota Aprindo setidaknya mencapai 50.000. Lebih lanjut, dia pun mengungkapkan rencana sektor ritel untuk mulai berinvestasi di Ibu Kota Negara (IKN). Menurutnya, saat ini masih dalam pembahasan, sehingga belum ada angka pasti dalam investasinya. “Nilai investasi ritel market cap pada 2021 itu US$401 juta, jika diambil rata-rata, kemudian ada tambahan 2 persen pada 2022. Itu mungkin akan diarahkan salah satunya ke IKN,” ungkapnya.



